Ujian Konservasi di Lahan Basah

menghadapi ujian terberatnya, bagaimana melestarikan fungsi-fungsi ekologis sekaligus mengangkat kesejahteraan nelayan dan petani setempat. Wetland International mengembangkan konservasi bersama masyarakat di lahan basah di Serang.

Fisiologi Tubuh Di Pegunungan

Mendaki gunung adalah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan segala konsekuensinya. Dengan berubahnya ketinggian tempat, maka kondisi lingkungan pun jelas akan berubah.

Bahaya Tas Plastik Untuk Hutan Indonesia

Tas plastik yang kita dapatkan sehari-hari dari pasar, warung, atau supermarket ternyata bisa berujung panjang, bahkan membahayakan kelestarian hutan kita.

Fungsi Hutan

Hutan merupakan satu ekosistem yang sangat penting di muka bumi ini, dan sangat mempengaruhi proses alam yang berlangsung di bumi kita ini.

Kenapa Harus Hijau??

Apa artinya menjadi Hijau? Apa artinya menjadi aktivis lingkungan atau lingkungan? Mengapa Anda membeli organik?

Dimensi Etika Dalam Berorganisasi

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa etika merupakan cara bergaul atau berperilaku yang baik.

Kamis, 27 November 2008

Diksar

Diksar Bentar lagi nih, kapan kabar2nya? tolong DP urus kalo butuh bantuan yang lain kami siap bantu....ok!!!!

Rabu, 24 September 2008

SYAWAL


SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM DAN SELAMAT IDUL FITRI

Jumat, 15 Agustus 2008

Kawinan

pemberitahuan sesepuh kita Acun Kawin Tanggal 22 Agustus 2008 bagi yang mau ikut kumpul tanggal 21 di rumah Oom terimakasih.

Rabu, 09 Juli 2008

Ekspedisi

Pada Hari Rabu Tgl 2 Juli 2008 s/d 5 Juli 2008 telah terlaksana Expedisi Alam Cipatujah - Pameungpeuk dan alhamdulillah telah terlaksana dengan cukup memuaskan, dan pada hari sabtu Tgl 12 Juli akan dilaksanakan Sidang Ekspedisi
Bravo Napallima

Rabu, 18 Juni 2008

Bakti Kampus

Tanggal 15 Juni 2008
Hari Minggu
Para anggota DP dan DPA telah melaksanakan proyek apotik Hidup dengan permulaan pembukaan lahan yang berada dipojok dekat LAB Kimia SMKN 5 Bandung
Terimaksih atas dukungan para anggoa semua
Bravo Napallima

Kamis, 29 Mei 2008

Masalah lingkungan hidup di Indonesia

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor,limbah industri, limbah pariwisata, limbah rumahsakit.

Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur.

Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.

Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Kamis, 15 Mei 2008

History of rock climbing

Although rock climbing was an important component of Victorian mountaineering in the Alps, it is generally thought that the sport of rock climbing began in the last quarter of the nineteenth century in various parts of Europe. Rock climbing evolved gradually from an alpine necessity to a distinct athletic activity.

Aid climbing (climbing using equipment that act as artificial hand- or footholds) became popular during the period 1920 - 1960, leading to ascents in the Alps and in Yosemite Valley that were considered impossible without such means. However, climbing techniques, equipment, and ethical considerations have evolved steadily, and today, free climbing (climbing on holds made entirely of natural rock, using gear solely for protection and not for support) is the most popular form of the sport. Free climbing has since been divided into several sub-styles of climbing dependent on belay configuration (described below).

Over time, grading systems have also been created in order to more accurately compare the relative difficulties of climbs.

Selasa, 06 Mei 2008

Senin, 05 Mei 2008

Daftar Tanaman Obat Indonesia


Data tervalidasi oleh Tim CoData Indonesia pada tahun 2000

A
Adas
Adem Ati
Ajeran
Akar Manis
Akar Wangi
Alang Alang
Alpokat
Andong
Angsana
Anting-anting
Anyang Anyang
Apel
Aren
Asam Jawa
Awar Awar

B
Bandotan
Bangle
Baru Cina
Bawang Merah
Bawang Putih
Bayam
Bayam Duri
Belimbing Asam
Belimbing Manis
Belimbing wuluh
Beluntas
Benalu
Beringin
Bidara Laut
Bidara Upas
Biduri
Bligu
Blustru
Boroco
Brojo Lintang
Brokoli
Brotowali
Buah Makasar
Buah Nona
Buncis
Bunga Kenop
Bunga Matahari
Bunga Pagoda
Bunga Pukul Delapan
Bunga Tasbih
Bungli
Bungur
Bungur Kecil
Buni

C
Cabai Merah
Cabai Rawit
Cabe Jawa
Cakar Ayam
Calingcing
Ceguk
Cempaka Kuning
Cempaka Putih
Cendana
Cengkeh
Ceremai
Cincau
Ciplukan

D
Dadap Ayam
Dadap Serep
Dandang Gendis
Daruju
Daun Dewa
Daun duduk
Daun Encok
Daun Jintan
Daun Kentut
Daun Madu
Daun Sendok
Daun Senna
Daun Ungu
Delima

E
Ekor Kucing
Enau

G
Gadung
Gambir
Gandarusa
Gendola
Genje
Ginjean
Greges Otot
Gude

H
Halia

I
Iler
Inggu

J
Jagung
Jahe
Jamblang
Jambu Biji
Jambu Monyet
Jamur Kayu
Jarak
Jarak Bali
Jarak Ulung
Jarong
Jati Belanda
Jayanti
Jengger Ayam
Jeruk Nipis
Jeruk Purut
Jintan Putih
Jintan/Ajeran
Johar
Jombang
Jung Rabab

K
Kacapiring
Kaki Kuda
Kaktus Pakis Giwang
Kamboja
Kapas
Kapasan
Kapulaga
Kastuba
Katu
Kayu Manis (padang)
Kayu Putih
Kecubung
Kecubung Gunung
Kedelai
Keji Beling
Kelapa
Kelingkit Taiwan
Kelor
Kembang Bokor
Kembang Bugang
Kembang Coklat
Kembang Kertas
Kembang Pukul Empat
Kembang Sepatu Sungsang
Kembang Sore
Kembang Sungsang
Kemuning
Kenanga
Kencur
Ketepeng Cina
Ketepeng Kecil
Ketimun
Ki Tolod
Klabet
Kol Banda
Kompri
Kubis
Kubis Bunga
Kucing Kucingan
Kumis Kucing
Kunci Pepet
Kunyit
Kwalot

L
Lada
Landep
Landik
Legundi
Lempuyang Gajah
Lempuyang Wangi
Lengkuas
Lenglengan
Lidah Buaya
Lidah Ular
Lobak

M
Mahkota Dewa
Mahoni
Mamang Besar
Manggis
Mangkokan
Melati
Mengkudu
Meniran
Mimba
Mindi Kecil
Mondokaki
Murbei

N
Nampu
Nanas
Nanas Kerang
Ngokilo
Nona Makan Sirih

P
Pacar Air
Pacar Cina
Padi
Pala
Pandan Wangi
Pare
Patah Tulang
Patikan Cina
Patikan Kerbau
Pecut Kuda
Pecut Kuda
Pegagan
Pepaya
Permot
Petai Cina
Pinang
Pisang
Pohon Merah
Portulaka
Poslen
Prasman
Pulai
Pule Pandak
Pulutan
Putri Malu

R
Rambutan
Rincik Bumi
Rumput Mutiara

S
Saga
Salam
Salvia
Sambang Darah
Sambang Getih
Sambiloto
Sambung Nyawa
Sangitan
Sangketan
Sawi Langit
Sawi Tanah
Secang
Seledri
Semanggi Gunung
Semangka
Sembung
Senggani
Sengugu
Sereh
Sesuru
Siantan
Sidaguri
Sirih
Sirsak
Sisik Naga
Som Jawa
Sosor Bebek
Srigading
Srikaya

T
Tahi Kotok
Tanduk Rusa
Tapak Dara
Tapak Kuda
Tapak Liman
Tasbeh
Tebu
Teh
Tembelekan
Tempuyung
Temu Hitam
Temu Kunci
Temu Putih
Temu Putri
Temulawak
Teratai
Teratai Kerdil
Tomat
Tunjung
Turi

U
Ubi Kayu
Urang-Aring

W
Waru
Wijaya kusuma
Wortel

Informasi ini terwujud atas kerjasama IPTEKnet dengan CODATA ICSU Indonesia
dan telah terealisasi pada tahun 2002

Apotik Hidup

Para anggota napallima punya planning kegiatan untuk menanam tanaman obat, untuk menunjang salah satu program kerja napallima dan alhamdullillah bu Kepala Sekolah SMKN 5 Bandung mendukung kegiatan tsb, dan akan menyumbang berupa bibit-bibit tanaman obat yang rencananya akan di laksanakan secepat mungkin, untuk anggota semuanya demi berlangsungnya acara bercocok tanam bersama ini kami harapkan kerjasama dan partisipasinya, untuk pemberitahuan selanjutnya silahkan menghubungi KADAT Napallima di BaseCamp.... OKE Booooo!!!!.....

Memanfaatkan Lahan Tidur


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Drip Irrigation

Menjadi petani itu tidak gampang. Hal ini sudah kualami sendiri dari pengalamanku menanam padi di pot dan menggarap sepetak tanah.


Aku dan beberapa tetanggaku sedang mencoba menggarap “lahan tidur” yang ada di sekitar lapangan RT. Sebetulnya, pemanfaatan lahan tidur ini merupakan program Rumah Pintar untuk kegiatan ibu-ibu; tapi ternyata tidak mendapat respon yang baik. Mereka menganggap kegiatan ini tidak ada gunanya, dan hanya buang-buang waktu saja.

Kemudian Bu RT mengajak ibu-ibu yang mau saja untuk menanam di lahan tidur ini. Ada 4 orang ibu yang bersedia, termasuk aku. Kami hanya merasa sayang saja, sudah mengeluarkan uang untuk jasa mencangkul membuat bedengan-bedengan kok sekarang tidak diolah (dulunya tanah ini ditumbuhi rumput liar) .

Sebagian besar lahan ditanami lidah buaya dan sanseviera. Masih ada sisa dua petak kecil lahan kami tanami kangkung, terong, kacang hijau, dan kenikir. Lidah buaya, sanseviera, dan kangkung mulai ditanam sejak bulan Februari- awal Maret 2008 ketika masih banyak turun hujan. Terong dan yang lainnya ditanam akhir Maret 2008 saat hujan sudah jarang turun.

Ternyata menanam di ladang itu sulit, apalagi jenis tanahnya tanah liat. Kalo habis hujan tanah jadi licin dan lengket banget tapi kalo kering jadi keras banget dan retak-retak. Agar mudah ditanami dan dicangkul, tanah mesti lebab-lembah saja. Masalahnya adalah di sekitar lahan tidak ada sungai atau kolam sehingga kami kesulitan dalam menyiram. Terpaksa kami membawa air dari rumah dengan menggunakan ember. Walaupun jarak ladang dengan lokasi rumah tidak jauh, sekitar 100 meter, tapi kalau mesti dilakukan setiap hari ya capek juga.

Akhirnya penyiraman dilakukan seperlunya saja. Kalau tanahnya sudah kelihatan kering sekali baru disiram. Lalu aku cari-cari informasi di internet tentang cara menyiram tanaman yang efektif dan tidak “merepotkan”. Aku menemukan sebuah “alat penyiram” sederhana berbahan botol plastik bekas. Tutup botol dilubangi – kecil saja, botol diisi air hingga penuh, lalu botol "ditanam" di dekat pohon dengan posisi terbalik. Air yang ada dalam botol akan menetes membasahi daerah di sekitar tanaman. Belakangan aku tahu dari Pak Sobirin, cara penyiraman seperti ini namanya “drip irrigation” yang digunakan di NTT dan Negara-negara yang sulit air. Kata Pak Sob juga, jika diterapkan dalam pertanian yang sesungguhnya, ongkos produksi akan lebih besar dari hasil panen.

Aku tetap menggunakan cara ini dalam “pertanian mini” kami. Tentu saja aku tidak mau keluar uang untuk membeli “alat penyiramnya”. Aku manfaatkan saja kotak-kotak susu UHT ukuran 1 liter yang selalu tersedia di rumahku. Bagian dasar kotak dilubangi pake paku kecil, cukup satu lubang saja. Airnya akan habis dalam setengah hari. Pengisisan air tergantung cuaca, kalo panas ya setiap hari, tapi kalau mendung bisa diganti 2-3 hari sekali.

Cara ini kelihatannya cukup efektif, hingga hari ini tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak kekeringan. Selain itu, membawa air dalam kotak susu jauh lebih mudah daripada dalam ember. Selain diisi air ledeng, kotak susu kadang juga diisi dengan MOL encer sebagai pupuknya.


Harapan kami, semoga saja dengan cara dan kemampuan yang seadanya “lahan tidur” dapat berubah menjadi lahan produktif.

Selasa, 25 Maret 2008

UPAS

Kemaren tanggal 21 - 23 Maret 2008 Sebagian DPA refreshing ke Ranca Upas untuk mencoba tenda baru..... heehehheheheh

CHRISTINE INGIN KOMPOSTER ANAEROB GENTONG


Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 1 Maret 2008 Foto: Sobirin 2008, Komposter Anaerob Model Jl Alfa Bandung Oleh: Sobirin

Christine pemilik blog http://myblog-christine-christine.blogspot.com/di Semarang ingin mencoba komposter anaerob gentong. Kreativitas kompos-mengompos memang harus terus dikembangkan agar rumah kita zero waste. Model milik saya memang lain, tapi analogi-nya sama dengan keinginan Christine. Tanya jawab lewat email dan blog begini..... Pak, saya sudah niat mau bikin kompos anaerob agar saya tidak lagi membuang sampah organik. Sekarang ini saya masih mencari kuali/ gentong tanah liat yang akan digunakan sebagai wadah. Bagus, pakai drum plastik model Adhi, atau pakai kuali atau gentong seperti keinginan Christine semuanya bisa. Tanpa kuali atau gentong atau drum plastik juga bisa, yaitu seperti model punya saya. Tanah digali 60 cm x 60 cm x 100 cm, seluruh galian langsung tanah, hanya bagian atasnya 1 bata di semen agar tidak runtuh. Tutupnya dengan plat beton tipis. Keterangan mengenai komposter model saya ini ada tertulis dalam artikel di blog ini beberapa waktu yang lalu. Tetapi kalau Christine ingin mencoba dengan gentong, bagus sekali. Analoginya sama dengan model saya. Sementara belum ketemu wadahnya, saya ingin tahu lebih jauh tentang kompos anaerob ini. Sehingga jika nanti wadahnya sudah ada saya bisa langsung mempraktekkannya. Apa sebenarnya arti anaerob? Kalau mau pakai gentong, cari gentong yang ukuran paling tidak 1/2 meter kubik dengan dinding gentong agak tebal, agar tidak mudah pecah bila tersenggol orang. Jangan lupa, cari tutup gentong yang pas dan rapat, bisa memakai cowet tanah (yang untuk membuat sambel) yang ukurannya pas mulut gentong. Proses pengomposan anaerob adalah proses pengomposan tanpa menggunakan oksigen (O2), hasilnya adalah kompos yang mengeluarkan gas metana, CO2 dan senyawa seperti asam organik, berbau, dan sering muncul belatung. Sedangkan proses pengomposan aerob adalah proses pengomposan dengan menggunakan oksigen (O2), hasilnya adalah kompos yang mengeluarkan CO2, uap air, dan panas. Baik aerob maupun anaerob, hasil komposnya sama saja, kualitasnya juga sama saja. Saat akan memulai kompos anaerob, apa yang pertama kali harus saya masukkan ke dalam kuali atau gentong? Tanah? Pasir? Kompos? Dan seberapa banyak?Pertama, masukkan tanah kedalam gentong, kira-kira 1/5 isi gentong. Untuk apa tanah ini? Tanah berfungsi menyerap lindi yang mungkin keluar selama proses berlangsung. Ketika saya memasukkan bahan kompos, apa perlu diaduk? Apakah unsur C/N juga diperhatikan dalam pengomposan ini? Bahan kompos organik apapun dimasukkan saja semuanya. Bisa sayur busuk, bisa nasi basi, bisa sisa kopi atau teh bekas tamu, sisa telur, daging, kulit udang, apapun. Memang sebaiknya ada pengadukan untuk membolak-balik bahan kompos, tidak sesering aduk-mengaduk seperti dalam proses aerob. Bau pasti muncul, hanya sebentar, oleh sebab itu proses aduk mengaduk dilakukan secepatnya, lalu gentong segera ditutup kembali. Jangan lupa tambahkan MOL boleh pekat secukupnya, jangan basah kuyup. Aduk lagi, dan terakhir lapisi dengan tanah setebal 2 cm, untuk menahan bau agar tidak keluar, lalu terakhir tutupkan cowet dimulut gentong. Alat pengaduknya agak lain. Bisa seperti ujung garpu yang agak dibengkokkan, tetapi pegangannya panjang, karena untuk menyesuaikan dengan lebar mulut gentong dan kedalaman gentong. Perkara C/N tidak perlu diperhatikan. Apakah tulang dan duri/ sisik ikan mentah juga bisa dimasukkan? Duri ikan mudah mengurai, tetapi tulang ayam atau tulang sapi sulit mengurai. Tidak apa-apa, masukkan saja, agar sisa-sisa daging yang menempel berproses. Soal tulang yang tidak mengurai biarkan saja, nanti kalau kompos jadi bisa disingkirkan. Kalau sayur basi harus ditiriskan dulu atau tidak? Perlu dipotong kecil-kecil juga? Masukkan saja dengan kuahnya, tidak perlu dipotong-potong, karena sayur basi sudah lunak. Kecuali kalau ada bahan yang ukurannya besar atau lebar, misalnya wortel atau waluh yang tidak terpakai atau daun pisang, perlu juga dipotong kecil-kecil. Untuk sisa nasi, roti, sayur yang tidak mengandung protein sebaiknya dikomposkan dengan cara apa. Aerob atau anaerob? Sisa nasi, roti, sayur yang tidak mengandung protein bisa dikomposkan dengan cara aerob atau anaerob. Bisa cara dua-duanya. Kalau bagian bawah kuali atau gentong tidak berlubang, bagaimana dengan air lindi yg keluar? Apakah bisa menjadikan komposnya ‘becek’? Kalau gentong diberi lubang-lubang kecil di pantatnya, risikonya ada air lindi yang menetes keluar, nanti bisa menjijikkan. Ada dua solusi. Pertama tidak perlu dilubangi, tetapi pada awal sebelum bahan kompos pertama masuk, maka gentong perlu di isi tanah dulu, barang 1/5 isi gentong, seperti dijelaskan di atas. Kedua, bila gentong ingin dilubangi di bagian pantatnya, maka sebaiknya pantat gentong di tanam dalam tanah, hanya pantatnya saja, supaya air lindi yang keluar mengalir keluar berproses langsung dengan tanah. Model yang berlubang ini seperti modelnya Adhi, atau juga dalam skala alam seperti model kepunyaan saya yang langsung berhubungan dengan tanah. Bisa saja proses kompos ini menjadi ‘becek’, tergantung dari bahan yang masuk banyak kandungan cairan atau tidak. Tidak apa-apa. Solusinya bisa dicampurkan dedak beras yang halus (bukan sekam), diaduk saja sampai tidak becek. Pengomposan ini pasti menimbulkan bau kan… terus sebaiknya wadah diletakkan dimana agar tidak mengganggu tetangga sekitar? Kalau gentong tertutup baik dan tidak retak, maka bau tidak akan keluar. Bau akan keluar saat tutup dibuka. Bisa terjadi dinding luar gentong menjadi lembab, tetapi tetap tidak akan bau. Wadah diletakkan di mana saja, taruh dihalaman atau di pojok luar rumah. Gentong bisa dicat warna-warni, ditulisi apa saja, bisa sebagai bagian hiasan di luar rumah. Tetangga sama sekali tidak akan terganggu. Saya memiliki 4 (empat) komposter anaerob dan 1 (satu) komposter aerob tidak ada bau keluar, dan tetangga happy-happy saja. Apakah wadah juga tidak boleh terkena hujan dan sinar matahari langsung? Boleh saja kena hujan, atau kena matahari langsung, tetapi sebaiknya di bawah pohon agar teduh.Sampai wadahnya penuh, butuh berapa lama agar bisa jadi kompos? Wah ini tergantung dari bahan yang dipakai. Tetapi agak lebih lama sedikit dibanding aerob. Ada hal menarik yang perlu disimak. Anehnya gentong anaerob ini akan lama penuhnya, walaupun setiap kali diisi. Kalau penuh, jangan dipaksa, nanti gentong bisa pecah. Tetapi dalam waktu seminggu setelah penuh, bahan kompos menyusut, dan gentong bisa diisi lagi. Demikian seterusnya. Gentong ukuran 1/2 meter kubik ini bisa-bisa baru penuh dalam waktu 6 bulan bahkan 1 tahun. Nah, silahkan setelah itu dipanen. He..he… banyak ya pak pertanyaannya…. Saya kan mesti siap mental dulu sebelum maju perang…. Kalau soal muncul belatung saya sadah biasa…. Tapi kalau timbul bau saya harus belajar mengatasinya dulu, salah-salah nanti saya diprotes orang se-RT…. Selamat mencoba, saya percaya tetangga tidak akan terganggu, asal proses pengerjaannya benar. Kecuali..........gentongnya ketabrak orang lewat, pecah.......dan kompos tumpah ruah.....waaaah baunya bisa layaknya seperti "bom nuklir", terutama kalau komposnya belum jadi karena sedang berproses, baunya menyebar kemana-mana, dan lama hilangnya. Siap-siap saja rumah Christine di-demo tetangga. Sekarang saya mau Tanya soal berkebun ya pak, boleh kan… Boleh! Saya sedang mencoba tanam kangkung dalam pot. Sudah tinggi, 10 cm-an tapi sebagian timbul bintik-bintik putih. Bagaimana cara mengatasinya? Apa bapak juga punya pestisida organik buatan sendiri? Kangkung saya juga pernah mengalami hal serupa. Buru-buru saya bersihkan dengan air pelan-pelan (di-lap pelan-pelan), lalu disemprot dengan air menggunakan alat penyemprot air kecil (yang biasa untuk menyemprot air ke baju yang akan disetrika). Cukup air biasa saja. Tetapi ada juga saya mencontoh teman-teman penghobby tanam-tanaman organik. Yang saya contoh adalah dengan air tembakau (tembakau di tukang rokok yang murahan), airnya disemprotkan. Bisa juga dengan daun sirsak (nangka belanda). Daunnya ditumbuk, campur air, disaring, semprotkan ke daun yang ada hamanya. Banyak kreativitas pestisida organik, ada yang menggunakan daun mimba, daun suren, gadung. Tetapi cari saja yang mudah dan banyak disekitar kita. Udah, cukup segini dulu pak, sebelumnya, terimakasih banyak (Christine). Sama-sama, terimakasih kembali. Jangan takut mencoba-coba, semoga sukses. Saya happy dengan hasil kompos anaerob saya (Sobirin).

Rabu, 27 Februari 2008

Tenda

DPA berencana bikin tenda siapa yang merasa jadi anggota tolong partisipasinya otreeee
untuk sumbangannya hubungi Oom di no telp biasa Heheheheh :D

Rabu, 09 Januari 2008

DIKLATSAR

Tanggal 2 sampai tanggal 6 Januari kemarin telah dilaksanakan acara DIKLATSAR angkatan yang ke 10 terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam acara kegiatan tsb.
bravo... Napallima